Kamis, 27 April 2023

HISTORY OF MANDO'O HILL

 

 

SEJARAH BUKIT MANDO'O

      Pada tahun 1300 ada sekumpulan orang yang datang dari Rote bagian timur (orang-orang ini berasal dari sabu). Mereka menuju ke suatu tempat (Kuli) orang-orang ini dipimpin oleh seorang pria yang bernama Lai Pala dan dua orang anaknya serta dua puluh orang pengikutnya. Mereka datang ketempat itu untuk mencari hidup yang baru.

         Ketika mereka sampai ke tempat itu atau (Kuli) karena belum ada tempat tinggal sehingga mereka menetap di sebuah gua yang sekarang gua tersebut dinamakan Lua Safu. Setelah tinggal beberapa saat di tempat itu, Lai Pala dan rombongannya merasa cocok untuk tinggal di tempat itu karena memiliki potensi yang banyak, sehingga mereka memilih untuk menetap di tempat itu dan tidak kembali lagi ke Sabu. Malahan keluarga mereka yang ada di Sabu datang ke tempat itu sehingga jumlah mereka bertambah menjadi ratusan orang dan terus bertambah sehingga kelompok ini dinyatakan sebagai suatu kerajaan.

      Setelah Lai Pala meninggal ia digantikan oleh anaknya yang kedua yaitu Sue Lai (sekitar tahun 1400). Setelah Sue Lai menjabat ia memimpin orang-orang untuk bekerja dan pada saat itu hanya ada tiga pekerjaan yaitu melaut, bertani, dan menyadap lontar. Ia juga memimpin orang-orang untuk membangun pagar untuk melindungi tempat tinggal raja yang ada di atas bukit Lete Kiu (bukit mando’o) Lete yang berarti bukit dan Kiu yang berarti lingkaran atau lindungi.

     Setelah Sue Lai meninggal ia digantikan oleh anak perempuannya yaitu Suta So’u. Suta So’u memimpin sekitar tahun 1500-an dan ia membuat gagasan untuk membangun cekdam atau bendungan Kuli (ditempat tersebut ada sebuah gua yang bernama So’u Lua, gua ini adalah tempat duduk raja untuk memperhatikan masyarakat yang tengah membangun bendungan Kuli). Masyarakat akan bergegas untuk bekerja setiap jam empat pagi yang di awasi oleh raja sendiri sehingga bendungan itu dinamakan (Gua Selu) dan gua itu dinamakan (Suta Lua) tempat Suta Sou mengawasi masyarakat yang tengah bekerja membangun bendungan tersebut.

       Setelah Suta Sou meninggal ia digantikan oleh anak dari saudara kandungnya. Hal itu terjadi karena selama Suta So’u hidup ia tidak memiliki anak yang dapat dijadikan sebagai penggantinya. Sejak saat itu Koli Datok menggantikan posisi Suta So’u, kerajaan itu menjadi semakin maju dan makmur, karena stiap sawah-sawah yang ditanam oleh masyarakat semuanya subur, bahkan kawasan lautpun diberi batas dan orang-orangpun dilarang untuk sembarang masuk serta ladang-ladang yang adapun dijadikan sebagai miliknya. Sehingga pada akhirnya wilayah itu dinamakan wilayah Koli atau Nusak Koli yang sekarang disebut Nusak Kuli.

        Nama Kuli sebenarnya berasal dari kata Koli namun seiring berjalannya waktu cara pelafalannya pun berubah menjadi Kuli. Kerajaan Koli mulai berdiri sejak tahun 1500-an sampai 1600-an setelah itu para raja di setiap kerajaan yang berada di Rote datang untuk merebut harta yang dimiliki oleh kerajaan Koli, hal tersebut dilakukan atas dasar iri hati karena pada saat itu kerajaan Koli sangatlah makmur, karena memiliki hasil laut yang melimpah dan wilayah persawahan yang luas (yang hanya dimiliki oleh kerajaan Koli tau tidak dimiliki oleh kerajaan lain). Gabungan kerajaan ini seseorang yang bernama Ndi’I Hua. Pada saat keributan itu terjadi, semua masyarakat Koli melarikan diri, yang tertinggal hanyalah raja beserta keluarganya. Raja Koli terus berusaha untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, namun karena terus diserang dan posisi raja semakin terdesak, sehingga raja dan keluarga melarikan diri untuk bersembunyi. Namun, raja Ndi’i Hua menemukan tempat persembunyian raja Koli lalu menangkapnya dan membawa kembali mereka ke tempat tinggal raja Koli. Raja Ndi’i Hua memberikan dua pilihan kepada raja Koli. Hidup atau mati, dan raja Koli memilih untuk tetap hidup maka harus mengucapkan sumpa bahwa semua harta milik raja Koli tidak boleh diraba atau memnjadi milik raja Koli lagi, sehingga bukit tersebut dinamakan bukit sumpah atau bukit mando’o.

    Setelah Ndi’i Hua menguasai tempat ini maka dia menjadikan Bukit Mando’o sebagai Benteng Pertahanan dan ketika Raja Lole memindahkan benteng pertahaan ke tempat lain maka Bukit Mando’o menjadi hutan belantara.

    Baru lah pada masa pemerintahan Bupati Cristian Nehemia Dillak, beliau membangun wisata di Bukit Mando’o yang diberi nama Bukit Mando’o atau Tangga Tiga Ratus( diberi nama Tangga Tiga Ratus karena pada proses pembanggunan pertama jumlah anak tangga 300 ). Wisata Tangga Tiga Ratus dibangun pada tahun 2004 dan memakan waktu pembaggunan sekitar 2 tahun ( 2004 – 2005), proses pembanggunan Tangga Tiga Ratus dikerjakan oleh orang Kuli dan orang Keka.

     Setelah Suta Sou meninggal ia digantikan oleh anak dari saudara kandungnya. Hal itu terjadi karena selama Suta So’u hidup ia tidak memiliki anak yang dapat dijadikan sebagai penggantinya. Sejak saat itu Koli Datok menggantikan posisi Suta So’u, kerajaan itu menjadi semakin maju dan makmur, karena stiap sawah-sawah yang ditanam oleh masyarakat semuanya subur, bahkan kawasan lautpun diberi batas dan orang-orangpun dilarang untuk sembarang masuk serta ladang-ladang yang adapun dijadikan sebagai miliknya. Sehingga pada akhirnya wilayah itu dinamakan wilayah Koli atau Nusak Koli yang sekarang disebut Nusak Kuli.

      Nama Kuli sebenarnya berasal dari kata Koli namun seiring berjalannya waktu cara pelafalannya pun berubah menjadi Kuli. Kerajaan Koli mulai berdiri sejak tahun 1500-an sampai 1600-an setelah itu para raja di setiap kerajaan yang berada di Rote datang untuk merebut harta yang dimiliki oleh kerajaan Koli, hal tersebut dilakukan atas dasar iri hati karena pada saat itu kerajaan Koli sangatlah makmur, karena memiliki hasil laut yang melimpah dan wilayah persawahan yang luas (yang hanya dimiliki oleh kerajaan Koli tau tidak dimiliki oleh kerajaan lain). Gabungan kerajaan ini seseorang yang bernama Ndi’I Hua. Pada saat keributan itu terjadi, semua masyarakat Koli melarikan diri, yang tertinggal hanyalah raja beserta keluarganya. Raja Koli terus berusaha untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, namun karena terus diserang dan posisi raja semakin terdesak, sehingga raja dan keluarga melarikan diri untuk bersembunyi. Namun, raja Ndi’i Hua menemukan tempat persembunyian raja Koli lalu menangkapnya dan membawa kembali mereka ke tempat tinggal raja Koli. Raja Ndi’i Hua memberikan dua pilihan kepada raja Koli. Hidup atau mati, dan raja Koli memilih untuk tetap hidup maka harus mengucapkan sumpa bahwa semua harta milik raja Koli tidak boleh diraba atau memnjadi milik raja Koli lagi, sehingga bukit tersebut dinamakan bukit sumpah atau bukit mando’o.

    Setelah Ndi’i Hua menguasai tempat ini maka dia menjadikan Bukit Mando’o sebagai Benteng Pertahanan dan ketika Raja Lole memindahkan benteng pertahaan ke tempat lain maka Bukit Mando’o menjadi hutan belantara.

    Baru lah pada masa pemerintahan Bupati Cristian Nehemia Dillak, beliau membangun wisata di Bukit Mando’o yang diberi nama Bukit Mando’o atau Tangga Tiga Ratus( diberi nama Tangga Tiga Ratus karena pada proses pembanggunan pertama jumlah anak tangga 300 ). Wisata Tangga Tiga Ratus dibangun pada tahun 2004 dan memakan waktu pembaggunan sekitar 2 tahun ( 2004 – 2005), proses pembanggunan Tangga Tiga Ratus dikerjakan oleh orang Kuli dan orang Keka.

Tidak ada komentar:

HISTORY OF MANDO'O HILL

    SEJARAH BUKIT MANDO'O       Pada tahun 1300 ada sekumpulan orang yang datang dari Rote bagian timur (orang-orang ini berasal dar...