SEJARAH BUKIT MANDO'O
Pada tahun 1300 ada sekumpulan orang yang datang dari Rote
bagian timur (orang-orang ini berasal dari sabu). Mereka menuju ke suatu tempat
(Kuli) orang-orang ini dipimpin oleh seorang pria yang bernama Lai Pala dan dua orang anaknya serta dua
puluh orang pengikutnya. Mereka datang ketempat itu untuk mencari hidup yang
baru.
Ketika mereka
sampai ke tempat itu atau (Kuli) karena belum ada tempat tinggal sehingga
mereka menetap di sebuah gua yang sekarang gua tersebut dinamakan Lua Safu. Setelah tinggal beberapa saat
di tempat itu, Lai Pala dan rombongannya merasa cocok untuk tinggal di tempat
itu karena memiliki potensi yang banyak, sehingga mereka memilih untuk menetap
di tempat itu dan tidak kembali lagi ke Sabu. Malahan keluarga mereka yang ada
di Sabu datang ke tempat itu sehingga jumlah mereka bertambah menjadi ratusan
orang dan terus bertambah sehingga kelompok ini dinyatakan sebagai suatu
kerajaan.
Setelah Lai Pala
meninggal ia digantikan oleh anaknya yang kedua yaitu Sue Lai (sekitar tahun 1400). Setelah Sue Lai menjabat ia memimpin
orang-orang untuk bekerja dan pada saat itu hanya ada tiga pekerjaan yaitu
melaut, bertani, dan menyadap lontar. Ia juga memimpin orang-orang untuk
membangun pagar untuk melindungi tempat tinggal raja yang ada di atas bukit Lete Kiu (bukit mando’o) Lete yang
berarti bukit dan Kiu yang berarti
lingkaran atau lindungi.
Setelah Sue Lai
meninggal ia digantikan oleh anak perempuannya yaitu Suta So’u. Suta So’u memimpin sekitar tahun 1500-an dan ia membuat
gagasan untuk membangun cekdam atau bendungan Kuli (ditempat tersebut ada
sebuah gua yang bernama So’u Lua, gua ini adalah tempat duduk raja untuk
memperhatikan masyarakat yang tengah membangun bendungan Kuli). Masyarakat akan
bergegas untuk bekerja setiap jam empat pagi yang di awasi oleh raja sendiri
sehingga bendungan itu dinamakan (Gua
Selu) dan gua itu dinamakan (Suta
Lua) tempat Suta Sou mengawasi masyarakat yang tengah bekerja membangun
bendungan tersebut.
Setelah Suta
Sou meninggal ia digantikan oleh anak dari saudara kandungnya. Hal itu terjadi
karena selama Suta So’u hidup ia tidak memiliki anak yang dapat dijadikan
sebagai penggantinya. Sejak saat itu Koli Datok menggantikan posisi Suta So’u,
kerajaan itu menjadi semakin maju dan makmur, karena stiap sawah-sawah yang
ditanam oleh masyarakat semuanya subur, bahkan kawasan lautpun diberi batas dan
orang-orangpun dilarang untuk sembarang masuk serta ladang-ladang yang adapun
dijadikan sebagai miliknya. Sehingga pada akhirnya wilayah itu dinamakan
wilayah Koli atau Nusak Koli yang sekarang disebut Nusak Kuli.
Nama Kuli
sebenarnya berasal dari kata Koli namun seiring berjalannya waktu cara
pelafalannya pun berubah menjadi Kuli. Kerajaan Koli mulai berdiri sejak tahun
1500-an sampai 1600-an setelah itu para raja di setiap kerajaan yang berada di
Rote datang untuk merebut harta yang dimiliki oleh kerajaan Koli, hal tersebut
dilakukan atas dasar iri hati karena pada saat itu kerajaan Koli sangatlah
makmur, karena memiliki hasil laut yang melimpah dan wilayah persawahan yang
luas (yang hanya dimiliki oleh kerajaan Koli tau tidak dimiliki oleh kerajaan
lain). Gabungan kerajaan ini seseorang yang bernama Ndi’I Hua. Pada saat
keributan itu terjadi, semua masyarakat Koli melarikan diri, yang tertinggal
hanyalah raja beserta keluarganya. Raja Koli terus berusaha untuk
mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, namun karena terus diserang dan
posisi raja semakin terdesak, sehingga raja dan keluarga melarikan diri untuk bersembunyi.
Namun, raja Ndi’i Hua menemukan tempat persembunyian raja Koli lalu
menangkapnya dan membawa kembali mereka ke tempat tinggal raja Koli. Raja Ndi’i
Hua memberikan dua pilihan kepada raja Koli. Hidup atau mati, dan raja Koli
memilih untuk tetap hidup maka harus mengucapkan sumpa bahwa semua harta milik
raja Koli tidak boleh diraba atau memnjadi milik raja Koli lagi, sehingga bukit
tersebut dinamakan bukit sumpah atau bukit mando’o.
Setelah Ndi’i Hua
menguasai tempat ini maka dia menjadikan Bukit Mando’o sebagai Benteng
Pertahanan dan ketika Raja Lole memindahkan benteng pertahaan ke tempat lain
maka Bukit Mando’o menjadi hutan belantara.
Baru lah pada masa
pemerintahan Bupati Cristian Nehemia Dillak, beliau membangun wisata di Bukit
Mando’o yang diberi nama Bukit Mando’o atau Tangga Tiga Ratus( diberi nama
Tangga Tiga Ratus karena pada proses pembanggunan pertama jumlah anak tangga
300 ). Wisata Tangga Tiga Ratus dibangun pada tahun 2004 dan memakan waktu
pembaggunan sekitar 2 tahun ( 2004 – 2005), proses pembanggunan Tangga Tiga
Ratus dikerjakan oleh orang Kuli dan orang Keka.
Setelah Suta Sou
meninggal ia digantikan oleh anak dari saudara kandungnya. Hal itu terjadi
karena selama Suta So’u hidup ia tidak memiliki anak yang dapat dijadikan
sebagai penggantinya. Sejak saat itu Koli Datok menggantikan posisi Suta So’u,
kerajaan itu menjadi semakin maju dan makmur, karena stiap sawah-sawah yang
ditanam oleh masyarakat semuanya subur, bahkan kawasan lautpun diberi batas dan
orang-orangpun dilarang untuk sembarang masuk serta ladang-ladang yang adapun
dijadikan sebagai miliknya. Sehingga pada akhirnya wilayah itu dinamakan
wilayah Koli atau Nusak Koli yang sekarang disebut Nusak Kuli.
Nama Kuli
sebenarnya berasal dari kata Koli namun seiring berjalannya waktu cara
pelafalannya pun berubah menjadi Kuli. Kerajaan Koli mulai berdiri sejak tahun
1500-an sampai 1600-an setelah itu para raja di setiap kerajaan yang berada di
Rote datang untuk merebut harta yang dimiliki oleh kerajaan Koli, hal tersebut
dilakukan atas dasar iri hati karena pada saat itu kerajaan Koli sangatlah
makmur, karena memiliki hasil laut yang melimpah dan wilayah persawahan yang
luas (yang hanya dimiliki oleh kerajaan Koli tau tidak dimiliki oleh kerajaan
lain). Gabungan kerajaan ini seseorang yang bernama Ndi’I Hua. Pada saat
keributan itu terjadi, semua masyarakat Koli melarikan diri, yang tertinggal
hanyalah raja beserta keluarganya. Raja Koli terus berusaha untuk
mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, namun karena terus diserang dan
posisi raja semakin terdesak, sehingga raja dan keluarga melarikan diri untuk
bersembunyi. Namun, raja Ndi’i Hua menemukan tempat persembunyian raja Koli
lalu menangkapnya dan membawa kembali mereka ke tempat tinggal raja Koli. Raja
Ndi’i Hua memberikan dua pilihan kepada raja Koli. Hidup atau mati, dan raja
Koli memilih untuk tetap hidup maka harus mengucapkan sumpa bahwa semua harta
milik raja Koli tidak boleh diraba atau memnjadi milik raja Koli lagi, sehingga
bukit tersebut dinamakan bukit sumpah atau bukit mando’o.
Setelah Ndi’i Hua
menguasai tempat ini maka dia menjadikan Bukit Mando’o sebagai Benteng
Pertahanan dan ketika Raja Lole memindahkan benteng pertahaan ke tempat lain
maka Bukit Mando’o menjadi hutan belantara.
Baru lah pada masa pemerintahan Bupati Cristian Nehemia Dillak, beliau membangun wisata di Bukit Mando’o yang diberi nama Bukit Mando’o atau Tangga Tiga Ratus( diberi nama Tangga Tiga Ratus karena pada proses pembanggunan pertama jumlah anak tangga 300 ). Wisata Tangga Tiga Ratus dibangun pada tahun 2004 dan memakan waktu pembaggunan sekitar 2 tahun ( 2004 – 2005), proses pembanggunan Tangga Tiga Ratus dikerjakan oleh orang Kuli dan orang Keka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar